Oleh : SEPTIA TIAN
Lihatlah
mentari yang beranjak pergi dari langit. Lihat bagaimana cahyanya masih
meninggalkan bekas berwarna jingga di atas langit sana. Lihat bagaimana langit
tidak seketika langsung gelap gulita. Lihat, semua itu berproses.
Aku masih berjalan menyusuri pasir
pantai yang kian menyatu dengan kaki mungilku. Aku membiarkan kakiku
dimain-mainkan oleh air laut yang berkecamuk itu. Telingaku masih tertuju pada
kerasnya suara desir ombak yang sesekali membuyarkan lamunanku tentang dirinya.
Aku tahu malam ini tidak terlalu baik untukku. Tidak pula terlalu indah untuk
kurebahkan tubuhku di atas pasir pantai. Aku sadar, malam ini bukan malam
untukku. Malam ini adalah malam untuknya. Bagaimana tidak, malam ini aku
dihantui dirinya, dirasuki dirinya bahkan nyaris menjelma menjadi dirinya.
Mataku, telingaku, hatiku, pikiranku serta otakku hanya ada dia. Bahkan malam ini
aku sejenak melupakan aku sendiri. Melupakan diriku yang telah Tuhan ciptakan
dengan sangat apik. Aku menyerupai dia. Dengan setelan kemeja dan celana jeans
pendek dan tidak lupa dengan rambut yang kugunting hingga pendek. Dirinya
seolah mengakar dalam jiwaku bahkan menjadikanku kehilangan arah untuk
mengenali diriku.
